Makalah · arXiv 2112.10752
High-Resolution Image Synthesis with Latent Diffusion Models
Ringkasan tiga baris
- 🎯 Model difusi ruang piksel standar membuang komputasi dan memori dalam jumlah besar untuk memodelkan detail frekuensi tinggi yang tidak terlihat di sepanjang langkah denoising berulang.
- 🔧 Memisahkan kompresi perseptual dari pemodelan generatif dengan melatih model difusi di dalam ruang laten berdimensi lebih rendah dari autoencoder praterlatih menggunakan pengondisian cross-attention.
- 📈 Mencapai FID mutakhir sebesar 5,11 pada CelebA-HQ, FID 3,60 pada ImageNet 256x256 terkondisi kelas, serta memangkas komputasi pelatihan dan inferensi hingga berkali-kali lipat dibanding model difusi ruang piksel.
Abstrak
Dengan menguraikan proses pembentukan gambar menjadi penerapan sekuensial dari denoising autoencoder, model difusi (DM) mencapai hasil sintesis mutakhir pada data gambar dan domain lainnya. Selain itu, formulasinya memungkinkan adanya mekanisme pemandu untuk mengontrol proses pembuatan gambar tanpa pelatihan ulang. Namun, karena model-model ini umumnya beroperasi langsung di ruang piksel, pengoptimalan DM yang kuat sering kali menghabiskan ratusan GPU days dan inferensinya mahal karena evaluasi sekuensial. Untuk memungkinkan pelatihan DM pada sumber daya komputasi yang terbatas namun tetap mempertahankan kualitas dan fleksibilitasnya, kami menerapkannya di ruang laten dari autoencoder praterlatih yang andal. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, melatih model difusi pada representasi semacam itu memungkinkan untuk pertama kalinya mencapai titik mendekati optimal antara pengurangan kompleksitas dan pelestarian detail, yang secara signifikan meningkatkan ketepatan visual. Dengan memperkenalkan lapisan cross-attention ke dalam arsitektur model, kami mengubah model difusi menjadi generator yang kuat dan fleksibel untuk input pengondisian umum seperti teks atau bounding box, serta memungkinkan sintesis resolusi tinggi secara konvolusional. Latent diffusion model (LDM) kami mencapai capaian mutakhir baru untuk image inpainting dan performa yang sangat kompetitif pada berbagai tugas, termasuk pembangkitan gambar tanpa kondisi, sintesis pemandangan semantik, dan super-resolution, sembari mengurangi kebutuhan komputasi secara signifikan dibandingkan DM berbasis piksel. Kode tersedia di https://github.com/CompVis/latent-diffusion .
Abstrak asli (bahasa Inggris)
By decomposing the image formation process into a sequential application of denoising autoencoders, diffusion models (DMs) achieve state-of-the-art synthesis results on image data and beyond. Additionally, their formulation allows for a guiding mechanism to control the image generation process without retraining. However, since these models typically operate directly in pixel space, optimization of powerful DMs often consumes hundreds of GPU days and inference is expensive due to sequential evaluations. To enable DM training on limited computational resources while retaining their quality and flexibility, we apply them in the latent space of powerful pretrained autoencoders. In contrast to previous work, training diffusion models on such a representation allows for the first time to reach a near-optimal point between complexity reduction and detail preservation, greatly boosting visual fidelity. By introducing cross-attention layers into the model architecture, we turn diffusion models into powerful and flexible generators for general conditioning inputs such as text or bounding boxes and high-resolution synthesis becomes possible in a convolutional manner. Our latent diffusion models (LDMs) achieve a new state of the art for image inpainting and highly competitive performance on various tasks, including unconditional image generation, semantic scene synthesis, and super-resolution, while significantly reducing computational requirements compared to pixel-based DMs. Code is available at https://github.com/CompVis/latent-diffusion .
Panduan membaca
Masalah dan motivasi
Model probabilistik difusi menghasilkan citra berketepatan tinggi yang mencakup banyak mode dengan membalikkan proses derau maju menggunakan rangkaian denoising autoencoder. Namun, melatih dan mengevaluasinya langsung dalam ruang piksel RGB berdimensi tinggi sangat menuntut komputasi. Pengoptimalan sering kali memakan waktu ratusan GPU days (misalnya, 150 hingga 1.000 V100 days), dan inferensi berurutan multi-langkah dapat memakan waktu berhari-hari untuk evaluasi standar. Karena pemodelan generatif berbasis likelihood menghabiskan kapasitas berlebih pada detail gambar frekuensi tinggi yang tidak terlihat sebelum mempelajari struktur semantik, evaluasi langsung di ruang piksel menyebabkan evaluasi gradien dan fungsi yang sia-sia.
Ide-ide utama
- Dekomposisi dua tahap: Memisahkan kompresi perseptual (menghilangkan detail yang tidak terlihat) dari pemodelan generatif semantik (mempelajari struktur dan komposisi gambar).
- Latent Diffusion Models (LDMs): Melatih model difusi denoising di dalam ruang laten dari sebuah autoencoder yang dilatih dengan perceptual loss dan adversarial loss.
- Kompresi spasial moderat: Berbeda dengan model autoregresif yang memerlukan reduksi spasial besar (misalnya, atau ), LDM mempertahankan bias induktif spasial dengan UNet konvolusional 2D, memungkinkan faktor downsampling moderat seperti atau yang tetap mempertahankan detail halus.
- Pengondisian cross-attention universal: Menggeneralisasi UNet ke input multimodal (deskripsi teks, bounding box, semantic map) menggunakan encoder spesifik domain yang dipetakan ke dalam lapisan jaringan perantara melalui cross-attention.
Metode
Kompresi Gambar Perseptual: Sebuah encoder memetakan gambar ke representasi laten berdimensi lebih rendah , di mana faktor downsampling adalah . Decoder merekonstruksi . Model ini diregulasi menggunakan penalti divergensi KL yang lemah terhadap (KL-reg.) atau kuantisasi vektor (VQ-reg.) yang diintegrasikan ke dalam decoder.
Pemodelan Laten Generatif: Sebuah UNet terkondisi waktu dilatih pada variabel laten menggunakan objektif denoising terbobot ulang:
Pengondisian Cross-Attention: Untuk input pengondisian (misalnya teks, kelas, layout), domain encoder diperkenalkan. Fitur perantara UNet berinteraksi dengan pengondisian melalui cross-attention: di mana , , dan . Objektif bersyaratnya adalah:
Hasil
- Trade-off kompresi perseptual: Faktor downsampling dan mencapai keseimbangan terbaik antara akurasi rekonstruksi, kualitas sintesis, dan throughput. Pada ImageNet, selisih FID sebesar 38 poin memisahkan LDM-1 berbasis piksel dari LDM-8 setelah 2 juta langkah pelatihan di bawah anggaran komputasi yang identik.
- Pembangkitan tanpa kondisi: Mencapai FID mutakhir sebesar pada CelebA-HQ (), pada FFHQ, pada LSUN-Churches, dan pada LSUN-Bedrooms.
- ImageNet terkondisi kelas: LDM-4 dengan classifier-free guidance mencapai FID sebesar dan Inception Score sebesar , melampaui ADM () meskipun menggunakan parameter yang lebih sedikit (400M vs. 608M) dan komputasi pelatihan yang jauh lebih hemat (271 vs. 962 V100 days).
- Text-to-image: Model dengan 1,45 miliar parameter (LDM-KL-8-G) mencapai FID sebesar pada MS-COCO dengan 250 langkah DDIM.
- Super-resolution dan inpainting: LDM-4 menetapkan rekor FID inpainting mutakhir baru sebesar pada Places (dan pada gambar bermasker sulit 40–50%), sembari beroperasi dengan throughput lebih dari lebih tinggi dibandingkan difusi ruang piksel.
Keterbatasan dan pertanyaan terbuka
- Latensi sampling: Meskipun secara signifikan lebih cepat daripada model difusi berbasis piksel, sampling multi-langkah sekuensial masih lebih lambat daripada generator GAN sekali jalan (single-pass).
- Bottleneck rekonstruksi: Bahkan dengan downsampling rendah (), kompresi dapat menghilangkan detail piksel frekuensi tinggi yang sangat halus, menjadikannya kurang optimal untuk tugas-tugas kritis piksel yang ultra-presisi.
- Dampak sosial & keselamatan: Biaya komputasi yang lebih rendah mendemokratisasi alat-alat kreatif, namun juga mempermudah pembuatan deepfake dan penyalahgunaan, sekaligus berpotensi mewarisi bias dari dataset berskala web yang tidak terkurasi.
Istilah kunci
- Latent Diffusion Models (LDMs)
- Model difusi yang dilatih di dalam ruang laten berdimensi lebih rendah dan setara secara perseptual yang disediakan oleh autoencoder terlatih.
- Perceptual Image Compression
- Model autoencoding tahap pertama yang dilatih dengan perceptual loss dan adversarial loss berbasis patch yang menghilangkan derau frekuensi tinggi yang tidak kasatmata dari gambar.
- Cross-Attention
- Mekanisme atensi yang diintegrasikan ke dalam lapisan perantara UNet di mana query berasal dari representasi gambar dan key/value berasal dari representasi pengondisian.
- Downsampling Factor ($f$)
- Rasio penskalaan spasial antara dimensi piksel asli dan dimensi kisi laten autoencoder.
- KL-reg. / VQ-reg.
- Skema regularisasi ruang laten yang diuji: penalti Kullback-Leibler ringan menuju distribusi normal standar, atau lapisan codebook kuantisasi vektor (vector quantization) yang diserap ke dalam decoder.
- Classifier-Free Guidance
- Teknik inferensi/sampling yang mengevaluasi secara bersamaan prediksi model terkondisi dan tanpa kondisi untuk mengarahkan kualitas pembangkitan tanpa jaringan pengklasifikasi terpisah.
- Convolutional Sampling
- Mengevaluasi model UNet konvolusional pada kisi spasial yang lebih besar daripada yang dilihat selama pelatihan untuk menghasilkan citra resolusi tinggi atau berukuran megapiksel dalam tugas seperti sintesis semantik atau super-resolution.
Pertanyaan
Mengapa melatih model difusi di ruang laten daripada langsung di ruang piksel?
Difusi di ruang piksel membuang komputasi substansial untuk menghitung gradien dan mengevaluasi jaringan secara berulang pada detail gambar frekuensi tinggi yang tidak terlihat. Dengan beralih ke ruang laten autoencoder, model generatif berfokus murni pada konsep semantik dengan peta fitur yang jauh lebih kecil, sehingga mempercepat pelatihan dan inferensi.
Bagaimana pengondisian pada data non-gambar seperti teks bekerja di LDM?
Kondisi non-gambar ditokenisasi dan diproses oleh encoder spesifik domain (seperti Transformer dengan tokenisasi BERT untuk teks) menjadi representasi perantara. Representasi ini kemudian disuntikkan ke dalam backbone UNet melalui lapisan cross-attention.
Berapa faktor downsampling $f$ yang memberikan performa terbaik?
Faktor downsampling dan memberikan keseimbangan terbaik. Faktor yang lebih kecil () menyisakan terlalu banyak kompresi perseptual untuk model difusi dan memperlambat pelatihan, sedangkan faktor yang lebih besar () kehilangan terlalu banyak detail spasial pada tahap pertama, membatasi kualitas sintesis gambar.
Bisakah Latent Diffusion Model menghasilkan gambar yang lebih besar daripada resolusi pelatihannya?
Bisa. Untuk tugas yang dikondisikan secara spasial (seperti sintesis semantik, inpainting, dan super-resolution), sifat konvolusional dari UNet memungkinkan dilakukannya convolutional sampling pada kisi laten yang lebih besar, menghasilkan gambar yang koheren pada ukuran atau ukuran megapiksel dari model yang hanya dilatih pada ukuran .
Ulasan di halaman ini ditulis oleh AI dari makalah dan mungkin mengandung kesalahan. Baca makalahnya untuk detail.